Tak terasa 2 tahun 3 bulan berlalu begitu cepat, hal ini karenakan rotasi dan revolusi bumi yang saling kerjar-kerjaran dan saling sambut menyambut satu sama lain tak pernah sedetik pun terhenti. usia yang terus bertambah, dan arta masih juga belum menikmati hidupnya sebagai karyawan jakarta. tampak wajahnya sudah memiliki gerutan disekitar pipi, dahi dan kantung matanya. Pipi yang berisi dan bentuk tubuh yang berbeda dari 2 tahun yang lalu merupakan satu-satunya perubahan yang telah dialami arta. arta semakin tua dan usianya sudah masuk 25 tahun namun kejenuhan dengan pekerjaan yang dilakukannya semakin menjadi-jadi.
Tepat 1,5 bulan yang lalu arta meninggalkan kantornya yang lama, dan pindah ke kantor yang baru dengan harapan agar hidupnya lebih baik, semangat mudanya di saat lulus kuliah tersulut, kreatifitasnya bertambah, banyak mendapatkan ilmu, dan banyak menghadapi masalah-masalah. Namun hal ini tidak ditemukan arta, arta lebih cendrung bekerja dengan kondisi yang terlalu santai dan tekanan yang hampir tidak ada. Hal inilah yang membuat arta semakin tua, semakin rapuh dan semakin tumpul. Bukankah pisau tajam dan kuat apabila tidak pernah dipakai dan diasah akan semakin tumpul, berkarat, kusam dan tua dan akhirnya tidak berguna? walaupun dilihat dari segi biologis arta seharusnya tegolong muda, dan banyak mempunyai energi dan dalam usia yang sangat prima.
"ahhhhh, apa yang mesti gw lakuin. I hate this fucking shit man, annoying me everyday, make me freaking goosebump everyday when I thing about my fucking future, god damned it". celetuk arta dengan penuh kegusaran. sebenarnya kegusaran arta terbentuk dari beberapa faktor : kerjaan yang terlalu santai dan tidak jelas kedepannya bagaimana, lingkungan kantor yang terlalu kaku, sepi, sendiri dan tidak adanya teman ngobrol saat dibutuhkan. akumulasi beberapa faktor tersebut lah yang menjadikan arta sebagai makhluk yang gusar, penuh kekawatiran, dan makhluk yang "plangak plongok". hal ini dikarenakan arta secara makhluk sosial tidak bisa terwujud, lingkungan dan tempat untuk terjalinnya komunikasi susah untuk dijalankan. sehingga memaksa arta untuk diam, dan lebih suka untuk ngobrol dengan semut atau bahkan berkomunikasi dengan kucing.
Hampir 3 hari ini arta setiap malam selalu berkomunikasi dengan kucing melalui komunikasi non verbal, yaitu melolot, komunikasi non verbal itu tejalin disaat hari kedua kucing tetangga mau mengacak-acak tong sampah arta, dengan sigap arta langsung melotot sambil menggerakan bola mata dari kiri ke arah ke kanan agar kucing tersebut tidak mengacak-acak tong sampahnya, karena kucing merupakan lawan komunikasi yang baik kucing pun ikut melotot menandakan dia merespon komunikasi dari arta, gerakan mata dari kiri ke kanan yang merupakan encrypsi dari "menyingkir kamu kucing, jangan acak-acak tong sampah aku" dapat dibaca secepat kilat oleh kucing. namun kucing tidak mau menyingkir dari tong sampah tersebut dan kucing tersebut tambah melotot tanda kucing tersebut menyampaikan pesan "eh, kepret..gw belum makan, laper nih..butuh tulang ayam yg lu makan tadi" pesan tersebut dapat dibaca arta, dengan sigap arta tambah melotot hingga matanya berair-air dan merah menyampaikan pesan bahwa "muke gile lu cing, mending lu makan pake piring dan gak acak2an...sonoh lu jangan acak2 tong sampah gw" dengan sigap kucing membalas dengan mata lebih melotot "aji gile, pelit banget lu..minta dikit kenapa" arta pun melotot "kagak" dan kucing pun melotot lagi "Beri kagak". melotot melototan dan bersitegang pun berlangsung lama dan akhirnya arta pun menang dengan kaburnya kucing. Sebuah perdebatan aneh yang seru bak debat di acara "indonesian lawyer club", dan arta pun merasa bangga dengan perdebatan malam itu. perdebatan yang cukup melelahkan dan membuat arta terlelap. namun paginya kemenangan berpihak ke arah kucing, hal ini dkarenakan kucing berhasil mengacak-acak tong sampah arta dan menyisakan serpihan-sepihan bekas tulang ayam di dalam sepatu arta. ternyata kucing menang secara telak karena tidak hanya tong sampah yang acak-acakan tapi sepatu arta dijadikan sebagai piring tulang ayam untuk si kucing makan, sungguh mengenaskan. Ternyata kucing tersebut mendengarkan perkataan arta untuk menggunakan piring kalau makan, dan ternyata sepatu arta yang dijadikan kucing sebagai piring. T T

1 comment:
Hahahaa..tidak berkepribinatangan.ckckck
Pasti terakhir tuh kucing blg, "Syukurin loh...beraninya sm kucing!".
Coba cari aktivitas lain yg lebih berbobot selain di tmpt kerja biar ga jenuh & mati kreatifitas. Angkat besi kek, makan batu, ato hehe becanda... Coba sambil bisnis ato cari kerja sampingan ditmpt lain.
Post a Comment