Sunday, June 1, 2014 1 comments

Getar Getir Karyawan Jakarta : Komunikasi Non Verbal

Tak terasa 2 tahun 3 bulan berlalu begitu cepat, hal ini karenakan rotasi dan revolusi bumi yang saling kerjar-kerjaran dan saling sambut menyambut satu sama lain tak pernah sedetik pun terhenti. usia yang terus bertambah, dan arta masih juga belum menikmati hidupnya sebagai karyawan jakarta. tampak wajahnya sudah memiliki gerutan disekitar pipi, dahi dan kantung matanya. Pipi yang berisi dan bentuk tubuh yang berbeda dari 2 tahun yang lalu merupakan satu-satunya perubahan yang telah dialami arta. arta semakin tua dan usianya sudah masuk 25 tahun namun kejenuhan dengan pekerjaan yang dilakukannya semakin menjadi-jadi.

Tepat 1,5 bulan yang lalu arta meninggalkan kantornya yang lama, dan pindah ke kantor yang baru dengan harapan agar hidupnya lebih baik, semangat mudanya di saat lulus kuliah tersulut, kreatifitasnya bertambah, banyak mendapatkan ilmu, dan banyak menghadapi masalah-masalah. Namun hal ini tidak ditemukan arta, arta lebih cendrung bekerja dengan kondisi yang terlalu santai dan tekanan yang hampir tidak ada. Hal inilah yang membuat arta semakin tua, semakin rapuh dan semakin tumpul. Bukankah pisau tajam dan kuat apabila tidak pernah dipakai dan diasah akan semakin tumpul, berkarat, kusam dan tua dan akhirnya tidak berguna? walaupun dilihat dari segi biologis arta seharusnya tegolong muda, dan banyak mempunyai energi dan dalam usia yang sangat prima. 

"ahhhhh, apa yang mesti gw lakuin. I hate this fucking shit man, annoying me everyday, make me freaking goosebump everyday when I thing about my fucking future, god damned it". celetuk arta dengan penuh kegusaran. sebenarnya kegusaran arta terbentuk dari beberapa faktor : kerjaan yang terlalu santai dan tidak jelas kedepannya bagaimana, lingkungan kantor yang terlalu kaku, sepi, sendiri dan tidak adanya teman ngobrol saat dibutuhkan. akumulasi beberapa faktor tersebut lah yang menjadikan arta sebagai makhluk yang gusar, penuh kekawatiran, dan makhluk yang "plangak plongok". hal ini dikarenakan arta secara makhluk sosial tidak bisa terwujud,  lingkungan dan tempat untuk terjalinnya komunikasi susah untuk dijalankan. sehingga memaksa arta untuk diam, dan lebih suka untuk ngobrol dengan semut atau bahkan berkomunikasi dengan kucing.

Hampir 3 hari ini arta setiap malam selalu berkomunikasi dengan kucing melalui komunikasi non verbal, yaitu melolot, komunikasi non verbal itu tejalin disaat hari kedua kucing tetangga mau mengacak-acak tong sampah arta, dengan sigap arta langsung melotot sambil menggerakan bola mata dari kiri ke arah ke kanan agar kucing tersebut tidak mengacak-acak tong sampahnya, karena kucing merupakan lawan komunikasi yang baik kucing pun ikut melotot menandakan dia merespon komunikasi dari arta, gerakan mata dari kiri ke kanan yang merupakan encrypsi dari "menyingkir kamu kucing, jangan acak-acak tong sampah aku" dapat dibaca secepat kilat oleh kucing. namun kucing tidak mau menyingkir dari tong sampah tersebut dan kucing tersebut tambah melotot tanda kucing tersebut menyampaikan pesan "eh, kepret..gw belum makan, laper nih..butuh tulang ayam yg lu makan tadi" pesan tersebut dapat dibaca arta, dengan sigap arta tambah melotot hingga matanya berair-air dan merah menyampaikan pesan bahwa "muke gile lu cing, mending lu makan pake piring dan gak acak2an...sonoh lu jangan acak2 tong sampah gw" dengan sigap kucing membalas dengan mata lebih melotot "aji gile, pelit banget lu..minta dikit kenapa" arta pun melotot "kagak" dan kucing pun melotot lagi "Beri kagak". melotot melototan dan bersitegang pun berlangsung lama dan akhirnya arta pun menang dengan kaburnya kucing.  Sebuah perdebatan aneh yang seru bak debat di acara "indonesian lawyer club", dan arta pun merasa bangga dengan perdebatan malam itu. perdebatan yang cukup melelahkan dan membuat arta terlelap. namun paginya kemenangan berpihak ke arah kucing, hal ini dkarenakan kucing berhasil mengacak-acak tong sampah arta dan menyisakan serpihan-sepihan bekas tulang ayam di dalam sepatu arta. ternyata kucing menang secara telak karena tidak hanya tong sampah yang acak-acakan tapi sepatu arta dijadikan sebagai piring tulang ayam untuk si kucing makan, sungguh mengenaskan. Ternyata kucing tersebut mendengarkan perkataan arta untuk menggunakan piring kalau makan, dan ternyata sepatu arta yang dijadikan kucing sebagai piring. T T
Saturday, December 21, 2013 0 comments

Where am I | Snapshot bag. 1

Atmosfer yang panas dengan suasana yang sunyi memaksa arta untuk berbaring di kasur. Jam yang berdetak pada angka 23.00 senada dengan detak jantung yang berdegup dan pikiran melayang, memutar memori dan menerawang ke depan sering terjadi ketika mata masih terjaga. Alunan musik Mandy moore dengan nada naik turun dan slow sering membuat indah dan seru setiap frame memori yang diputar secara terus menerus. Benar sekali gumam si arta, memori merupakan sebuah rekaman film perjalanan hidup yang sangat indah yang di design agar bisa diputar dan dirasakan kapanpun dan dimanapun. 

Rekaman perjalanan hidup yang diputar setiap malam merupakan hiburan tersendiri bagi arta yang seorang perantauan, karena arta bisa merasakan masa lalu yang indah dan membuatnya tersenyum dengan hal hal itu, terkadang arta juga mengenang hal hal pahit yang dirasakannya sehingga bisa dijadikannya sebuah pelajaran. 

Selain sebagai hiburan tersendiri, rekaman perjalanan hidup sering dijadikan sebagai sebuah indikator kesuksesan bagi arta, baginya kesuksesan itu dapat diperoleh ketika perencanaan berbanding lurus dengan kerbehasilan yang diperoleh. Simple namun butuh perjuangan yang keras untuk mewujudkan hal itu.

Rekaman perjalanan hidup yang sering arta putar, berawal dari tekad arta yang ingin mencari nafkah dan tidak lagi bergantung dengan biaya hidup dari ibunya. Untuk mencari nafkah, arta pun memilih jakarta sebagai sumber emas bagi dia. Dengan dalih, jakarta merupakan kota megapolitan, ibukota Negara Indonesia, kawasan Industri, penghubung antar daerah, dan daerah yang berkembang pesat.

Akhir desember 2011 merupakan hari dimana arta berpindah dari kota bandung tempatnya kuliah ke jakarta. Dengan bermodalkan niat, semangat, tekad yang bulat, rambut yang klimis dan bulu hidung nya yang semriwing, arta yakin dia bisa bertahan di kota jakarta yang terkenal keras. “Keras endasmu”dalam hati arta berkata, hal ini dikarenakan arta punya rasa percaya diri yang setengah matang, sehingga dibutuhkan sebuah kata yang terbilang meremehkan agar bisa menambah rasa percaya dirinya.

Sepanjang perjalanan dari bandung ke jakarta ia pun merancang dan menulis planning yang ingin ia capai setelah 4 tahun berkuliah di bandung. Target yang ingin ia capai ialah, segera mendapatkan pekerjaan, mendapatkan gaji yang lumayan, dapat mengembangkan skillnya untuk lebih baik, dapat membantu keuangan keluarga, dan mempunyai banyak relasi. Itulah beberapa target yang ingin dicapai oleh arta ketika dia mengawali hidupnya di jakarta.

Jam telah menunjukkan pukul 2.00, seketika arta melepas ingatannya tentang awal perjalanan yang akan dia tempuh di jakarta. Sebuah baby step yang rentan, yang akan membuat baik hidupnya dan juga bisa merusak hidupnya. Sebuah cerita perjalan masa transisinya dari mahasiswa ke pekerja swasta. Dengan mata terkantuk artu pun akhirnya bergegas untuk tidur karena besok dia akan bekerja.
Friday, March 9, 2012 6 comments

GETAR GETIR HIDUP KARYAWAN JAKARTA - BAG 1 (DUNIA PERINTERVIEWAN)

Di sudut ruangan arta menyerangai seperti layaknya kerbau jantan selama 17 tahun tidak melihat kerbau betina. Senyum sumringah yang dikeluarkan serta merta keluar begitu saja. Hal ini dikarenakan arta mengingat bagaimana perjuangan yang dilakukan olehnya untuk bertahan di jakarta sangat lah berat. Berat menahan malu, berat menahan wibawa, berat menahan kentut, dan berat menahan buang air besar. semua sama-sama berat.

Jakarta yang kejam, jakarta yang penuh dengan penduduk yang beranekaragam merupakan sepenggal  daerah metropolitan yang banyak didatangi oleh perantauan untuk mengadu nasib. Hal itu dapat dilihat begitu banyaknya orang beradu demi mendapatkan posisi yang layak untuk dirinya. Posisi layak sama halnya dengan posisi yang enak-enak dan sangat diidam-idamkan. Enak dari segi makanan, jabatan, kekayaan, dan kekuasaan merupakan posisi layak bagi orang kelas atas. Enak berdekatan dengan cewek di busway dan berharap jauh dari bau "kelek" amang-amang (om-om ketek berjenggot) tanpa deodorant merupakan posisi yang layak bagi orang kelas menengah. Maklum, hampir sepanjang hidup dijakarta aktifitas yang dilakukan oleh arta tidak jauh dari dua optional tersebut. Bau Kelek amang-amang atau berdekatan dengan wanita cantik? Kalau berdekatan dengan kelek amang-amang dijamin sepanjang jalan kalian akan merasakan bagaimana rasanya marijuana, heroin, ataupun sabu-sabu yang digunakan oleh pecandu narkoba. Fly bukan main, terasa bikin pusing setiap detiknya dan membuat tubuh lemas dan lutut begetar menahan gejolak makanan siang yang siap dilontarkan bagai meriam jaman belanda. Sungguh amang, kelek mu tiada tara dan tiada duanya. Bagaimana kalau berdekatan dengan wanita cantik ? waktumu akan terasa bagaikan surga dunia dengan betaburan bunga tujuh rupa yang membuat pikiran menjadi senang dan beban kerja hilang karena manisnya ciptaan tuhan yang tiada duanya ini. Kibasan rambut yang harum yang bau menyan, dan harum parfumnya yang lemah lembut gemulai membuat arta melontarkan kata-kata "INI ADALAH KENDARAAN UMUM TERBAIK SEPANJANG MASA". Ya walaupun dapat merasakan hal tersebut 1:10000 dari perjalanan pulang kantor yang dilakukannya.

Tanggal 13 Januari 2012 merupakan hari yang paling berkesan bagi arta. Bekesan dalam kata arti inilah permulaan dan awal yang akan dilakukan oleh arta untuk menapaki kaki nya di dunia pekerjaan. Dunia untuk orang mengaplikasikan ilmu nya, dunia untuk orang mendapatkan upah demi mengisi perutnya yang bagaikan container dan siap untuk diisi apa pun, dunia untuk orang yang mencari pasangan hidup, dunia untuk orang yang menghabiskan waktu kesahariannya, dan tentunya adalah dunia untuk orang yang bisa dipanggil "bapak", bagai oranh-orang yang sudah disegani dan dihormati walau pengalaman yang dimiliki masih secuil bulu hidung.

Berawal dari panggilan interview tanggal 11 Januari 2012. Panggilan yang sangat di tunggu-tunggu dan sangat di damba-dambakan. Bagai sebuah panggilan yang dilanturkan oleh artis sekelas mpok nori yang membuat berkidik saking cemprengnya. Senang, penasaran, degdegan, diare 2 hari 2 malam hal itulah yang dirasakan oleh arta sebelum interview yang akan dihadapinya.

Jam 9.00 Pagi arta menusuri jalan TB. Simatupang untuk datang dalam rangka menunaikan panggilan yang telah ditunggu-tunggu nya. Sambil berjalan menuju TKP arta hening dan keringat dingin memikirkan apa yang akan diinterview oleh perusahaan tersebut. Maklum pengalaman pertama arta dalam dunia perinterviewan. Namun dengan berlagak sok-sok an arta mulai menyemangati dan menyugesti dirinya agar tidak keringat dingin demi memberikan yang terbaik di debut pertamanya di jagat dunia perinterviewan.

Sesampai di instansi tersebut, kumis jampang bapak satpam yang tajam, bau parfum yang menyengat bagai kemenyan menyambut arta di instansi itu. Sepi senyap dan tak kelihatan ada kegiatan sedikit pun di instansi itu.Di kesenyapan itu terdengar satpam tersebut menanyakan kepada arta "Ada keperluan apa kisanak ke sini dan siapa yang mengundang kisanak ke sini ? (sengaja di buat komentar dengan setting dunia persilatan indonesia.red)" arta pun menjawab dengan suara bassnya yang serek becek karena hangat dinginnya pun kambuh lagi, "mau interview pak,mba rikha yang mengundang saya ke sini". "mas tunggu di ruangan itu", satpam itu pun menunjukkan ruangan kecil yang ada di sudut kiri instansi itu. Setelah pintu terbuka ternyata ada salah satu pria yang sudah menunggu di dalamnya. Perkenalan dan basa-basi ala orang yang berwawasan luas pun terjadi. ngobrol-ngbrol seputar dunia IT dan pengalaman dia bekerja yang saat ini masih saya ingat, namun nama pria tersebut sedikit lupa karena memori saya sedikit bad sector. Tak lama berselang muncul seorang bapak separuh baya, mirip dengan Amien Rais tampang dan kumisnya. Bapak tersebut diiring oleh seorang mba yang cantik jelita. Arta langsung deg-degan karena kedatangan bapak itu. Otak meluap, napas tak beraturan, tangan keringatan karena dahsyatnya adrenalin interview itu permirsa-pemirsa. Arta nyaris tak bernafas saking deg-degan dengan penampilan bapak tersebut. Yang ada dibenaknya ialah "Bapak ini ialah "father of interview". Father yang akan mencambuk arta dengan sejuta pertanyaan yang tidak kebayang sebelumnya. Namun imajinasi lebay tersebut hilang karena bapak itu datang untuk interview juga bukan sebagai "father of interview".

Selang berapa menit mba cantik nan jelita itu pun memperkenalkan dirinya. Namanya adalah rikha bagian HRD instansi ini. Dia yang akan merekrut sejuta umat yang mau bekerja dengan instansi ini. Sungguh manis mba tersebut hingga menghanyutkan arta pada sesi psikotes yang akan dilaluinya. Soal psikotest yang aneh, yang soalnya cuma orang-orang psikologi yang tau rumus dibaliknya. Soal psikotest saat itu kurang lebih sebanyak 400 soal, yang harus dikerjakan dalam waktu 2 jam. Sungguh sadis bukan kepalang, soal bertele-tele yang mirip ikan lele mesti dilakukan rata-rata 3-4 soal dalam 1 menitnya. Oh god, menarik sekali dunia pekerjaan itu. Soal-soal demi soal dilahap oleh arta bagai lalapan tanpa sambel. Hambar dan sedikit bersyukur daripada tidak ada.

Jam 9.30 sampai 11.30 dengan deraan soal yang aneh telah membuat otak pun terasa encer karena sebulan dipakai dengan hal-hal yang ringan. Soal dikerjakan dengan santai, mulai menggambar bapak-bapak petani yang menjadi patokan arta sebagai orang yang ulet bekerja digambar oleh dirinya pada soal psikotest bagian karakter pribadi sebuah pekerjaan yang paling mulia dimata psikotester (orang-orang yang ikut psikotest). Kumis tebal digambarkan oleh arta, yang menurutnya menggambarkan orang yang berkarakter tegas walau hal itu hanya karangan dan prediksi arta saja, rambut belah pinggir menggambarkan orang yang bijaksana digambarkan dengan hati-hati walau gambar mirip cacing lagi disko. Namun arta lagi-lagi harus memberikan yang terbaik demi debut di dunia perinterviewannya.

Selesai mengerjakan soal, kami disuruh untuk istirahat dan menunaikan sholat untuk selanjutnya masuk ke sesi interview. Sesi interview akan menjelaskan scope pekerjaan yang akan dipikul, serta gaji yang akan dijanjikannya. Hal itulah yang dikatakan oleh mba rikha sebelum kami makan siang.

Setelah makan siang, sesi interview dimulai. Arta dipandu mba rikha untuk masuk ke ruangan yang bertuliskan "trust" di pintunya. Ruangan trust bagai kutub utara, dingin hingga membuat kambuh hangat-dingin penyakit yang di derita karena nerves tingkat dewa. Tak lama seorang bapak yang tinggi dan berperwakan seorang manager mengahampiri arta dan memperkenalkan dirinya. Bapak tersebut bernama wido Supraha. Ternyata beliau adalah General Manager SUB-IT di instansi tersebut. Bapak tersebut sangat ramah hingga penyakit nerves tingkat dewa arta hilang bagai air yang menguap. Bapak tersebut menanyakan hal-hal seputar pengalaman yang telah dilakukan berdasarkan CV saya yang telah dibaca sebelumnya. dan bapak tersebut menjelaskan scope pekerjaan yang akan diemban kalau-kalau ketrima di instansi tersebut. Fasilitas yang akan diterima, dan gaji yang akan diterima. Sungguh pemirsa, ternyata interview tidaklah sesadis yang dibayangkan. Sungguh asik dan tantangan bagi pemirsa yang ingin merasakan dunia perinterviewan.

Itulah hal yang membuat arta tersenyum bagaimana debut pertamanya yang ternyata akan memberikan jalan yang terbaik untuk dirinya sebagai karyawan jakarta yang merasakan getar-getir cadasnya ibukota jakarta..

(Bersambung dan Berlanjut di BAG 2 : MY NAME IS SMITH)
 
;