Friday, March 9, 2012 6 comments

GETAR GETIR HIDUP KARYAWAN JAKARTA - BAG 1 (DUNIA PERINTERVIEWAN)

Di sudut ruangan arta menyerangai seperti layaknya kerbau jantan selama 17 tahun tidak melihat kerbau betina. Senyum sumringah yang dikeluarkan serta merta keluar begitu saja. Hal ini dikarenakan arta mengingat bagaimana perjuangan yang dilakukan olehnya untuk bertahan di jakarta sangat lah berat. Berat menahan malu, berat menahan wibawa, berat menahan kentut, dan berat menahan buang air besar. semua sama-sama berat.

Jakarta yang kejam, jakarta yang penuh dengan penduduk yang beranekaragam merupakan sepenggal  daerah metropolitan yang banyak didatangi oleh perantauan untuk mengadu nasib. Hal itu dapat dilihat begitu banyaknya orang beradu demi mendapatkan posisi yang layak untuk dirinya. Posisi layak sama halnya dengan posisi yang enak-enak dan sangat diidam-idamkan. Enak dari segi makanan, jabatan, kekayaan, dan kekuasaan merupakan posisi layak bagi orang kelas atas. Enak berdekatan dengan cewek di busway dan berharap jauh dari bau "kelek" amang-amang (om-om ketek berjenggot) tanpa deodorant merupakan posisi yang layak bagi orang kelas menengah. Maklum, hampir sepanjang hidup dijakarta aktifitas yang dilakukan oleh arta tidak jauh dari dua optional tersebut. Bau Kelek amang-amang atau berdekatan dengan wanita cantik? Kalau berdekatan dengan kelek amang-amang dijamin sepanjang jalan kalian akan merasakan bagaimana rasanya marijuana, heroin, ataupun sabu-sabu yang digunakan oleh pecandu narkoba. Fly bukan main, terasa bikin pusing setiap detiknya dan membuat tubuh lemas dan lutut begetar menahan gejolak makanan siang yang siap dilontarkan bagai meriam jaman belanda. Sungguh amang, kelek mu tiada tara dan tiada duanya. Bagaimana kalau berdekatan dengan wanita cantik ? waktumu akan terasa bagaikan surga dunia dengan betaburan bunga tujuh rupa yang membuat pikiran menjadi senang dan beban kerja hilang karena manisnya ciptaan tuhan yang tiada duanya ini. Kibasan rambut yang harum yang bau menyan, dan harum parfumnya yang lemah lembut gemulai membuat arta melontarkan kata-kata "INI ADALAH KENDARAAN UMUM TERBAIK SEPANJANG MASA". Ya walaupun dapat merasakan hal tersebut 1:10000 dari perjalanan pulang kantor yang dilakukannya.

Tanggal 13 Januari 2012 merupakan hari yang paling berkesan bagi arta. Bekesan dalam kata arti inilah permulaan dan awal yang akan dilakukan oleh arta untuk menapaki kaki nya di dunia pekerjaan. Dunia untuk orang mengaplikasikan ilmu nya, dunia untuk orang mendapatkan upah demi mengisi perutnya yang bagaikan container dan siap untuk diisi apa pun, dunia untuk orang yang mencari pasangan hidup, dunia untuk orang yang menghabiskan waktu kesahariannya, dan tentunya adalah dunia untuk orang yang bisa dipanggil "bapak", bagai oranh-orang yang sudah disegani dan dihormati walau pengalaman yang dimiliki masih secuil bulu hidung.

Berawal dari panggilan interview tanggal 11 Januari 2012. Panggilan yang sangat di tunggu-tunggu dan sangat di damba-dambakan. Bagai sebuah panggilan yang dilanturkan oleh artis sekelas mpok nori yang membuat berkidik saking cemprengnya. Senang, penasaran, degdegan, diare 2 hari 2 malam hal itulah yang dirasakan oleh arta sebelum interview yang akan dihadapinya.

Jam 9.00 Pagi arta menusuri jalan TB. Simatupang untuk datang dalam rangka menunaikan panggilan yang telah ditunggu-tunggu nya. Sambil berjalan menuju TKP arta hening dan keringat dingin memikirkan apa yang akan diinterview oleh perusahaan tersebut. Maklum pengalaman pertama arta dalam dunia perinterviewan. Namun dengan berlagak sok-sok an arta mulai menyemangati dan menyugesti dirinya agar tidak keringat dingin demi memberikan yang terbaik di debut pertamanya di jagat dunia perinterviewan.

Sesampai di instansi tersebut, kumis jampang bapak satpam yang tajam, bau parfum yang menyengat bagai kemenyan menyambut arta di instansi itu. Sepi senyap dan tak kelihatan ada kegiatan sedikit pun di instansi itu.Di kesenyapan itu terdengar satpam tersebut menanyakan kepada arta "Ada keperluan apa kisanak ke sini dan siapa yang mengundang kisanak ke sini ? (sengaja di buat komentar dengan setting dunia persilatan indonesia.red)" arta pun menjawab dengan suara bassnya yang serek becek karena hangat dinginnya pun kambuh lagi, "mau interview pak,mba rikha yang mengundang saya ke sini". "mas tunggu di ruangan itu", satpam itu pun menunjukkan ruangan kecil yang ada di sudut kiri instansi itu. Setelah pintu terbuka ternyata ada salah satu pria yang sudah menunggu di dalamnya. Perkenalan dan basa-basi ala orang yang berwawasan luas pun terjadi. ngobrol-ngbrol seputar dunia IT dan pengalaman dia bekerja yang saat ini masih saya ingat, namun nama pria tersebut sedikit lupa karena memori saya sedikit bad sector. Tak lama berselang muncul seorang bapak separuh baya, mirip dengan Amien Rais tampang dan kumisnya. Bapak tersebut diiring oleh seorang mba yang cantik jelita. Arta langsung deg-degan karena kedatangan bapak itu. Otak meluap, napas tak beraturan, tangan keringatan karena dahsyatnya adrenalin interview itu permirsa-pemirsa. Arta nyaris tak bernafas saking deg-degan dengan penampilan bapak tersebut. Yang ada dibenaknya ialah "Bapak ini ialah "father of interview". Father yang akan mencambuk arta dengan sejuta pertanyaan yang tidak kebayang sebelumnya. Namun imajinasi lebay tersebut hilang karena bapak itu datang untuk interview juga bukan sebagai "father of interview".

Selang berapa menit mba cantik nan jelita itu pun memperkenalkan dirinya. Namanya adalah rikha bagian HRD instansi ini. Dia yang akan merekrut sejuta umat yang mau bekerja dengan instansi ini. Sungguh manis mba tersebut hingga menghanyutkan arta pada sesi psikotes yang akan dilaluinya. Soal psikotest yang aneh, yang soalnya cuma orang-orang psikologi yang tau rumus dibaliknya. Soal psikotest saat itu kurang lebih sebanyak 400 soal, yang harus dikerjakan dalam waktu 2 jam. Sungguh sadis bukan kepalang, soal bertele-tele yang mirip ikan lele mesti dilakukan rata-rata 3-4 soal dalam 1 menitnya. Oh god, menarik sekali dunia pekerjaan itu. Soal-soal demi soal dilahap oleh arta bagai lalapan tanpa sambel. Hambar dan sedikit bersyukur daripada tidak ada.

Jam 9.30 sampai 11.30 dengan deraan soal yang aneh telah membuat otak pun terasa encer karena sebulan dipakai dengan hal-hal yang ringan. Soal dikerjakan dengan santai, mulai menggambar bapak-bapak petani yang menjadi patokan arta sebagai orang yang ulet bekerja digambar oleh dirinya pada soal psikotest bagian karakter pribadi sebuah pekerjaan yang paling mulia dimata psikotester (orang-orang yang ikut psikotest). Kumis tebal digambarkan oleh arta, yang menurutnya menggambarkan orang yang berkarakter tegas walau hal itu hanya karangan dan prediksi arta saja, rambut belah pinggir menggambarkan orang yang bijaksana digambarkan dengan hati-hati walau gambar mirip cacing lagi disko. Namun arta lagi-lagi harus memberikan yang terbaik demi debut di dunia perinterviewannya.

Selesai mengerjakan soal, kami disuruh untuk istirahat dan menunaikan sholat untuk selanjutnya masuk ke sesi interview. Sesi interview akan menjelaskan scope pekerjaan yang akan dipikul, serta gaji yang akan dijanjikannya. Hal itulah yang dikatakan oleh mba rikha sebelum kami makan siang.

Setelah makan siang, sesi interview dimulai. Arta dipandu mba rikha untuk masuk ke ruangan yang bertuliskan "trust" di pintunya. Ruangan trust bagai kutub utara, dingin hingga membuat kambuh hangat-dingin penyakit yang di derita karena nerves tingkat dewa. Tak lama seorang bapak yang tinggi dan berperwakan seorang manager mengahampiri arta dan memperkenalkan dirinya. Bapak tersebut bernama wido Supraha. Ternyata beliau adalah General Manager SUB-IT di instansi tersebut. Bapak tersebut sangat ramah hingga penyakit nerves tingkat dewa arta hilang bagai air yang menguap. Bapak tersebut menanyakan hal-hal seputar pengalaman yang telah dilakukan berdasarkan CV saya yang telah dibaca sebelumnya. dan bapak tersebut menjelaskan scope pekerjaan yang akan diemban kalau-kalau ketrima di instansi tersebut. Fasilitas yang akan diterima, dan gaji yang akan diterima. Sungguh pemirsa, ternyata interview tidaklah sesadis yang dibayangkan. Sungguh asik dan tantangan bagi pemirsa yang ingin merasakan dunia perinterviewan.

Itulah hal yang membuat arta tersenyum bagaimana debut pertamanya yang ternyata akan memberikan jalan yang terbaik untuk dirinya sebagai karyawan jakarta yang merasakan getar-getir cadasnya ibukota jakarta..

(Bersambung dan Berlanjut di BAG 2 : MY NAME IS SMITH)
 
;